Selasa, 15 November 2016

Waralaba Bimbel

Belajar dari Dora dan Boots


Hasil gambar untuk gambar kartun belajar dari dora


    Para orangtua dan guru yang saya cintai, hampir setiap anak pasti akan mengenal jika ditanya siapa Dora dan Boots, tokoh utama dalam film serial kartun anak yang ditayangkan sebuah stasiun televisi di Jakarta.

   Saya sering dan suka menontonnya. Dora dan Boots mengajari anak-anak kita untuk berpetualang, dari satu tempat ke tempat lainnya, dengan berbagai masalah dan situasi yang dibangun.
Sangat menarik bagi anak-anak.

   Dora dan Boots mengajari anak untuk berpikir kreatif dan bukan menghafal. Anak-anak dilatih untuk melihat persoalan, menyusun rencana, menetapkan sasaran, memehami proses, dan yang paling menarik bagi saya adalah, Dora dan Boots menggunakan peta sebagai alat bantunya.

   Para orangtua dan guru yang berbahagia, Dora dan Boots menekankan bahwa untuk dapat mencapai tujuan, kita harus mengetahui persoalannya terlebih dahulu, dan untuk bisa memecahkan persoalan kita harus membuat perancanaan. Setiap perencanaan dibagi ke dalam proses, yang terdiri atas tahapan-tahapan mulai dari awal sampai titik sasaran. Untuk membantu itu semua, kita memerlukan petunjuk arah yang disebut peta.

     Dalam film kartu ini, peta selalu digunakan sebagai alat bantu untuk memecahkan teka-teki, juga alat bantu dalam proses pencapaian sasarana. Sungguh, Dora telah membuka mata saya untuk mengingat kembali dan membandingkan dengan sistem pendidikan kita.


     Masih ingatkah Anda ketika duduk di bangku SMP  atau SMA? kita mendapat pelajaran peta pada bidang studi geografi. Namun sayangnya, cara kita diajari dahulu sangatlah jauh berbeda dengan cara yang diajarkan Dora kepada anak-anak kita. Dulu, oleh geografi kita selalu diminta guru untuk menghafal kota dan ibu kota dalam peta yang sedang dipelajari. Tidak seperti Dora, yang mengajarkan bahwa peta adalah alat bantu petunjuk, untuk mencapai tempat tujuan, bukan sesuatu yang harus dihafalkan. Dulu kita juga telah dipaksa oleh guru kita untuk menghafal peta.

   Masih ingatkah Anda akan adanya ujian PETA BUTA? Ya, kita diminta untuk menghafalkan bentuk pulau, kemudian menggambarnya, sekaligus menuliskan nama dan posisi kota-kotanya. Bukankah ini sungguh keterlaluan? Ya, kata kita pada saat menjadi murid dahulu. Otak kita terus-menerus dipaksa untuk menghafal dan menghafal. Saya yakin Anda pun tersiksa pada saat mengikuti ujian peta buta tersebut. Sayangnya, setelah kita menjadi guru dan orangtua, kita kembali menerapkan hal sama pada anak kita atau didik kita di sekolah.

      Lalu, apa akibatnya dari model pendidikan semacam ini?
Jelas sekali. Anak Indonesia, dan kita termasuk di dalamnya, tidak pernah tahu bahwa peta sebenarnya adalah sebagai alat bantu terbaik untuk mencapai sasaran dan bukan barang hafalan. Apa buktinya? Coba perhatikanlah, jika Anda sedang berwisata, sangat jelas bedanya antara turis asing dan turis lokal. Jika kedua turis ini sama-sama buta terhadap wilayah yang dikunjunginya, turis asing akan selalu memengang peta bersamanya sebagai alat bantu mencapai tujuan. Sementara turis lokal hampir tidak pernah ada yang membawa peta, melainkan hanya bermodalkan nekat saja!

     Jika sampai saat ini kita pun masih menjadi salah satu turis bermodalkan nekat, jangan takut, Ya, itulah hasil dari pendidikan kita dulu. Begitulah akibatnya jika anak-anak terus-menerus dididik dengan cara hafalan, seperti burung beo dan bukan berpikir kreatif. Jadi, wajar saja jika saat ini kita memiliki cukup banyak stok orang-orang yang hanya bisa pasrah menghadapi berbagai permasalahan hidup. Alih-alih berusaha untuk menemukan solusi kreatif bagi diri dan bangsanya.[] 


Keterangan : Buku Ayah Edy, Judul : Punya Cerita, Penerbit : Noura Books (PT Mizan Publika) 2013